Posted on

Dusan Bulut, Mimpi Besar dari Jalanan

Di Serbia 3×3 streetball adalah hiburan rakyat dan bola basket adalah olahraga nomor satu di sana. Ketika saya mulai berlatih basket, saya ingin terus memperbaiki kemampuan pribadi saya dan selalu berada di 3×3 streetball.

-Dusan Domovic Bulut, Hoop Press, Oktober 2015

 

Kerja keras mengalahkan bakat ketika bakat tidak mau bekerja keras. Tidak jelas siapa yang mencetuskan kutipan ini, tetapi Kevin Durant sempat mengatakan hal serupa. Namun, bagaimanapun kutipan ini benar adanya. Sudah banyak orang yang membuktikan, kerja keras mampu mengalahkan bakat besar dari seseorang ketika mereka yang berbakat tidak ingin bekerja keras. Jack Ma, CEO Alibaba, contohnya. Ia menjadi miliarder setelah sebelumnya ditolak 30 perusahaan.

Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pada Dusan Domovic Bulut, pemain peringkat atas FIBA 3X3. Dulu ia hanya bermain bermain 3X3 di jalanan Kota Liman bersama teman-teman yang juga tetangganya. Kini Bulut menjadi seorang megabintang yang fenomenal di dunia bola basket. Namun, bukan basket secara konvensional. Ia tidak bermain di lapangan berukuran 28x15m melainkan 3X3 yang hanya memakai satu ring dalam permainannya. Ia secara konsisten berada dalam peringkat tiga besar FIBA 3×3 dalam beberapa tahun terakhir. Baik secara peringkat individu di dunia maupun peringkat secara individu di negaranya.

Karirnya berawal dari sebuah lapangan kecil yang berada di Kota Liman atau biasa disebut Bronx, terletak di Provinsi Vojvidina, Serbia.

Saya melihat sebuah film berjudul ‘Jump’ di televisi dan saya mengatakan kepada ayah saya bahwa saya ingin menjadi salah satu dari mereka,” ujar Bulut dalam sebuah video di kanal YouTube. “Saya ingin berlatih basket dan itulah saat saya mulai berlatih pada umur 9 tahun.”

Sulit bagi Bulut untuk mengembangkan minatnya itu karena pada tahun 1990-an banyak terjadi perang di Serbia. Dulu negara ini masih bernama Yugoslavia. Namun, nasib berkata lain. Bulut justru bekerja keras untuk basket.

Dusan (Bulut) adalah orang yang sangat keras. Dia terlahir dengan watak yang keras,ujar Ignatov di video yang sama.

Watak Bulut yang keras itu membawanya bermain di level tim nasional 3X3 dalam ajang World Championship. Bersama dengan Marko Savic dan Marko Zdero, Bulut mewakili Serbia dalam 3X3 World Championship pertama di Athena, Yunani, pada 2012. Untuk pertama kalinya, Serbia pun menjadi juara dalam kompetisi ini.

Banyak orang menginginkan hobi mereka menjadi jalan hidup. Tak terkecuali seorang Dusan Bulut. Sejak gelar dunia pertamanya itulah Bulut ingin menjadi pemain profesional 3X3. Di samping keinginannya sejak kecil, ia mengatakan bahwa hadiah yang didapat dari hasil juara juga sangat menggiurkan.

Setelah menjadi juara dunia Bulut dan juga timnya, Novi Sad, absen dalam gelaran 3X3 World Tour pada 2012. Di tahun selanjutnya mereka mengikuti Prague Masters dan berhasil melaju 3X3 World Tour mewakili turnamen Prague Masters bersama Bucharest. Dalam penampilan perdananya itu, Novi Sad, berada di posisi kedua di Istanbul, Turki. Mereka kalah dari Brezovica, sebuah kota kecil yang dekat dengan Ljubljana.

Dusan Bulut (pertama dari kanan) bersama timnya, Novi Sad Al-Wahda. Foto: report.az

 

Untuk kali pertama Novi Sad berhasil menjadi juara pada 2014. Kompetisi 3X3 World Tour yang digelar di Sendai, Jepang, itu menampilkan Novi Sad sebagai juara setelah mengalahkan Saskatoon, Kanda, di partai puncak. Pada 2015, Abu Dhabi kemudian menjadi tuan rumah selama dua tahun beturut-turut. Di 2015, Dusan Bulut manandatangani kontrak bersama tim lain asal Uni Emirat Arab yaitu Al-Wahda. Seperti dikutip The National pada 9 Mei 2015, Khalid Al Hanaei yang merupakan Ketua Dewan Direksi Al-Wahda menyatakan ketertarikannya.

“Kami menjalin kerjasama untuk memenangkan setiap kompetisi 3X3 World Tour yang diadakan FIBA,” pungkas Al Hanaei. “Selain meraih gelar juara, tujuan kami menjalin kerjasama adalah untuk mempromosikan Al-Wahda dan juga Abu Dhabi.”

Novi Sad yang dulu mewakili Serbia pun ikut berganti nama menjadi Novi Sad Al-Wahda. Dusan Bulut pun menjadi perwakilan Uni Emirat Arab dalam gelaran FIBA 3X3 World Tour. Bak gayung bersambut, tujuan awal direksi Al-Wahda yang ingin memenangkan setiap kompetisi 3X3 World Tour mulai terwujud di tahun pertama mereka. Novi Sad Al-Wahda menjadi juara pertama pada 2015 dan Bulut berhasil keluar sebagai pemain terbaik.

Sayangnya, pada 2016 Novi Sad Al-Wahda gagal mengulang kesuksesan mereka di tahun sebelumnya. Mereka takluk setelah tim Hamamatsu asal Jepang mencapai 21 poin lebih dulu. Dalam permainan 3X3 tim yang mencapai 21 poin lebih dulu dinyatakan sebagai pemenang meskipun waktu pertandingan masih ada.  Saat itu Hamamatsu diperkuat bintang timnas basket India, Amjyot Singh, yang saat ini bermain dengan Oklahoma City Blue di NBA G-League. Novi Sad Al-Wahda saat itu hanya menduduki peringkat ke-4 dalam 3×3 World Tour 2016.

Kegagalan mereka berlanjut pada 2017. Dalam Zemun Masters 2017, Novi Sad Al-Wahda harus takluk di partai final. Mereka kalah setelah mendapat tembakan magis dari Bogdan Dragovic sesaat sebelum pertandingan berakhir. Melalui tembakan itu pula Dragovic dinobatkan menjadi MVP.

Kendati demikian, dari Dusan Bulut kita justru bisa belajar banyak hal. Kemauan dia untuk menjadi seorang atlet profesional mengalahkan kondisi lingkungannya saat. Perang tidak menghentikan mimpinya. Jalan hidupnya pun berubah ketika dia berusaha dengan keras untuk mengubah hidupnya. Sampai saat ini Bulut tercatat pernah bermain di kasta kedua liga basket Serbia. Ia juga sempat bermain dengan KK Kozuv yang bermain di kasta tertinggi Makedonia. Ia bermain basket konvesional hanya untuk menjaga kondisi fisiknya saat musim dingin dan menunggu hingga musim panas tiba di Eropa. Kemudian ia pun kembali ke 3X3.

Foto:  Red Bull

 Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1777/dusan-bulut-mimpi-besar-dari-jalanan
Posted on

Film Basket Pertama di Indonesia Siap Ramaikan Bioskop

Menjadikan olahraga sebagai tema pembuatan sebuah film sudah sering kita temui. Meski jumlahnya tak sebanyak tema umum lainnya, film bertema olahraga selalu punya daya tarik tersendiri.

Ketika film bertema cabang olahraga telah banyak jumlahnya, Andibachtiar Yusuf ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Sutradara kawakan tersebut menghadirkan film bertema basket pertama di Indonesia. Film itu diberi judul “Mata Dewa”. Film ini diproduseri oleh Avesina Soebli, rekan kerja Yusuf sejak lama.

Ini bukan kali pertama Yusuf menggarap film bertema olahraga. Sebelumnya, ia tercatat pernah beradu pikiran dengan Avesina Soebli dalam pengerjaan “Garuda 19”. Selain itu, ia juga punya andil dalam film “Hari Ini Pasti Menang”. Kedua film tersebut memang bertemakan sepak bola, tapi ia justru merasa tertantang ketika ditawari film bertema basket.

“Walau beda cabor, namun inti cerita film Mata Dewa punya beberapa kesamaan dengan film saya sebelumnya. Sama-sama bercerita tentang bagaimana mengatasi egoisme, kerja tim, dan mencapai sasaran. Tinggal bagaimana kita mengolah ceritanya,” ungkap Yusuf kepada Jawa Pos.

Sutradara berusia 44 tahun ini juga mengatakan bahwa ia mengemas film ini dengan konten yang ringan. “Kami tidak mengkhususkan film ini hanya untuk kalangan penikmat basket. Seluruh kalangan bisa menikmatinya kok,” imbuhnya.

Agatha Chelsea (kiri) dan Kenny Austin (kanan) ketika peluncuran trailer dan poster perdana Mata Dewa di XXI Lounge Plaza Indonesia (23/1).

Ide cerita film “Mata Dewa” terinspirasi dari kisah nyata salah satu peserta turnamen Developmental Basketball League (DBL) Indonesia. Tokoh Dewa punya cita-cita untuk memenangkan turnamen DBL East Java Series. Namun, perjalanan meraih gelar itu harus dilalui dengan terjal. Karena suatu insiden, penglihatan mata kirinya mengalami gangguan.

Kisah itu terjadi di DBL Arena dan SMA Wijaya Surabaya sehingga seluruh proses pengambilan gambar juga diambil di sana. Tak hanya itu, seluruh pemain yang beradu akting di film ini mayoritas adalah mantan pemain kompetisi basket SMA terbesar di Indonesia ini. Jika tidak menjadi peserta, setidaknya mereka punya ikatan emosional dengan DBL Indonesia. Begitulah standar yang dipatok Yusuf dalam menyeleksi pemerannya.

Sebut saja Kenny Austin yang memerankan tokoh Dewa. Remaja asli Medan ini hampir saja mengikuti DBL North Sumatera Series andai tak terkendala batasan usia.  Ada juga komedian Dodit Mulyanto. Sebelum menjalani karir sebagai figur publik, ia adalah guru musik di salah satu SMA di Surabaya. Ketika tim basket sekolahnya bertanding di DBL Arena, ia pernah menjadi koordinator suporter.

Kenny terpilih sebagai pemeran utama mengalahkan puluhan kandidat. Saat casting, dia diminta mempraktikkan beberapa teknik basket. Ia mampu melakukannya dengan baik. Hal tersebut dikarenakan pemeran utama wajib menguasai dua skill, yaitu bermain basket dan berakting.

Salah satu proses pengambilan gambar film “Mata Dewa” yang dilakukan di DBL Arena, Surabaya.

Tak hanya Kenny, pemeran pendukung lainnya tercatat sebagai pemain berprestasi di DBL, di antaranya: Abram Nathan (DBL All Star 2015), Rivaldo Tandra Pangestio (DBL All Star 2012 dan 2013), dan Nuke Tri Saputra (shooting guard Pacific Caesar Surabaya dan DBL All Star 2012). ”Sengaja kami mengajak alumni DBL supaya lebih menjiwai. Bagaimanapun juga, ini adalah film tentang DBL dan mereka sudah mengenal turnamen ini,” terang Avesina kepada Jawa Pos.

Avesina menjanjikan, emosi para penonton akan tersentuh ketika menonton film ini. “Ada ratusan ribu individu yang pernah bersentuhan dengan DBL. Entah sebagai pemain, pelatih, atau suporter. Bisa jadi, seorang ibu merasa dekat dengan DBL karena anaknya pernah bermain di sana. Bisa juga adiknya, keponakannya, atau temannya,” imbuhnya.

Hal ini diiyakan oleh Azrul Ananda, President Director DBL Indonesia sekaligus Executive Producer film “Mata Dewa”. “Entah sudah berapa juta orang yang terlibat dalam pertandingan DBL. Pasti ada jutaan cerita yang sulit kita bayangkan. Semoga film ini bisa merepresentasikan cerita-cerita itu,” lanjut Azrul yang menjadi kameo dengan memerankan dirinya sendiri.

Film “Mata Dewa” dibintangi segenap artis tanah air seperti Kenny Austin, Chelsea Agatha, Brandon Salim, Valerie Tifanka, Nino Fernandez, Ariyo Wahab, dan Dodit Mulyanto. Anda juga bisa menikmati penampilan khusus Augie Fantinus serta Udjo Project Pop. Anda sudah bisa menikmati film basket pertama di Indonesia ini mulai 8 Maret 2018.

Sumber Foto: Jawa Pos

 Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1770/film-basket-pertama-di-indonesia-siap-ramaikan-bioskop#.Wmhb2SDE8dA.facebook
Posted on

Membandingkan Tokoh Slam Dunk dengan Pemain NBA

Membahas komik Slam Dunk rasanya tak cukup hanya dalam satu artikel. Ada banyak hal dalam komik tersebut yang masih bisa dibahas lebih dalam lagi. Salah satunya tentu tentang para tokoh yang ada di dalamnya. Sebagai komik olahraga yang menceritakan perjalanan Shohoku dalam sebuah turnamen, Slam Dunk tentu tidak lepas dari tokoh atau sekolah lain yang menjadi lawan mereka. Semua tokoh ini lalu membaur bersama dan menciptakan sebuah cerita yang menarik, bahkan membekas bagi para pembaca.

Takehiko Inoue bisa disebut sebagai jenius dengan kemampuannya merangkai para tokoh ke dalam cerita tersebut. Semuanya nyaris tepat pada sasaran dan sesuai porsinya. Memang ada beberapa tokoh yang tidak terlalu mendapatkan banyak peran. Akan tetapi, dengan beberapa deskripsi yang disematkan oleh Inoue, kita bisa membayangkan bagaimana mereka bermain.

Dalam beberapa situs anime atau manga yang tersebar di internet, banyak sekali yang membandingkan para tokoh Slam Dunk dengan para pemain bintang atau bahkan legenda NBA. Beberapa perbandingan tersebut memang terasa tepat dan nyaris mendekati aslinya. Tidak ada pernyataan resmi dari Inoue perihal persamaan ini, tapi melihat kecintaan dan pengetahuannya tentang basket, mungkin, ia melihat sosok-sosok NBA untuk menggambar tokoh ciptaannya.

Pertama ada perbandingan kapten SMA Shohoku, Takenori Akagi, dengan legenda New York Knicks, Patrick Ewing. Saya sepenuhnya setuju dengan persamaan ini. Dari segi penampakan, tokoh Akagi memiliki gaya bermain nyaris identik dengan Ewing. Akagi adalah center yang mengandalkan kekuatan tubuh besarnya. Kemampuannya dalam menyerang dan bertahan sama kuatnya. Sesekali ia pun menggetarkan ring lawan dengan dunk-dunk keras. Sama seperti Ewing di era jayanya bersama Knicks, keduanya juga menjadi kapten bagi tim masing-masing.

Selanjutnya ada nama Ryouta Miyagi. Digambarkan sebagai point guard yang bertubuh tidak terlalu tinggi, cepat, dan mempunyai kemampuan melantun bola (dribble) yang bagus, Miyagi memang bisa disejajarkan dengan legenda Phoenix Suns, Kevin Johsnon. Keduanya mengatur serangan dengan sangat brilian, membagi bola tepat waktunya, dan masih bisa diandalkan menjadi pencetak angka di beberapa kesempatan. Untuk faktor yang terakhir, mungkin Johnson lebih bisa diandalkan daripada Miyagi, karena di cerita Slam Dunk Miyagi tidak cukup konsisten mencetak angka.

Ada salah satu tokoh yang secara konsisten hadir di Slam Dunk dan beberapa kali sempat mendapatkan porsi yang cukup besar di dalamnya. Kiminobu Kogure adalah nama tokoh tersebut. Senior SMA yang seangakatan dengan Akagi dan Mitsui ini menggambarkan betapa pentingnya pemain cadangan di sebuah tim. Kogure tidak memiliki fisik sebaik para pemain utama. Senjata andalannya adalah tembakan tiga angka yang cukup akurat.

Persamaan yang sepadan mungkin ada pada Toni Kukoc era Chicago Bulls. Kukoc di era itu bermain cukup baik dari bangku cadangan. Ia dengan baik memimpin tim saat Michael Jordan atau Scottie Pippen mendapatkan waktu istirahat. Tembakan tiga angkanya juga cukup bagus dan bisa diandalkan.

Satu lagi persamaan mereka adalah pembawaan diri. Keduanya sama-sama tampak diam dan flamboyan saat berada di lapangan.

Hisashi Mitsui menjadi pemain selanjutnya yang saya bandingkan. Mantan pemain terbaik tingkat SMP yang sangat mengandalkan kemampuan tembakan tiga angka. Ia bisa menjadi sangat akurat saat mendapatkan ritme dan momentum yang tepat. Kondisi fisik menjadi satu-satunya penghambat Mitsui untuk berkembang. Ia tidak punya cukup stamina untuk menyerang dan bertahan dengan intensitas tinggi. Tidak ada perbandingan yang bisa sangat dekat dengan Mitsui, karena nyaris tidak ada pemain yang kondisi fisiknya seburuk dia. Tapi, melihat kemampuannya yang sangat mengandalkan tembakan tiga angka, bisa dibilang ia sangat dekat dengan Ray Allen. Pemain yang meraih gelar juara bersama Miami Heat ini bisa disebut sebagai salah satu penembak jitu terbaik dalam sejarah NBA.

Perbandingan selanjutnya mungkin akan membuat beberapa penggemar Hanamichi Sakuragi kesal. Karena memang tidak ada lagi yang bisa dibandingkan dengan Kaede Rukawa selain Michael Jordan. Keduanya bermain sebagai pencetak angka utama tim. Memilki segala kemampuan untuk menjadi bintang, baik secara menyerang maupun bertahan. Mungkin lebih tepatnya Rukawa adalah Jordan di usia muda, karena Jordan di era jayanya sangat berhati-hati dalam mengambil semua tembakan. Tidak seperti Rukawa yang masih cukup sering memaksakan tembakan meski ia tidak sedang dalam posisi terbaiknya. Keduanya juga sering dianggap arogan karena gaya permainan mereka. Banyak menggunakan strategi isolation yang membuat ia berhadapan satu lawan satu.

Yang terakhir ada sang tokoh utama komik ini sendiri, Hanamichi Sakuragi. Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya, Sakuragi awalnya tidak mengenal apa itu olahraga basket. Akan tetapi, ia mempunyai bakat alami dengan kondisi fisik yang bagus serta kemampuan melompat yang sama bagusnya. Bakat tersebut lantas terus dilatih hingga ia mampu melakukan beberapa hal, termasuk rebound dan menembak di jarak perimeter. Beberapa situs membandingkan Sakuragi dengan sosok Dennis Rodman di NBA. Apalagi Rodman memang terkenal karena kemampuanya mendapatkan rebound. Ia berperan banyak dalam era kejayaan Bulls sebgai pemain bertahan sekaligus rebounder terbaik di tim.

Dalam beberapa kesempatan Rodman juga memainkan peran sebagai pengacau di lapangan. Ia sering membuat pemain lawan tersulut dan akhirnya membuat pelanggaran yang tidak berguna. Jika mengacu pada hal itu, kemiripan Sakuragi dengan Rodman memang mendekati. Namun, ada satu hal yang tampak jauh berbeda di antara keduanya. Di seri-seri akhir komik, Sakuragi mendapatkan latihan khusus guna memperbaiki kemampuan menembaknya hingga ke jarak perimeter. Ia pun berhasil menjalankan latihan tersebut hingga mempraktekannya di khalayak umum. Hal tersebut tidak dimiliki oleh Rodman. Bahkan untuk urusan menembak di bawah ring saja, Rodman tidak bagus-bagus amat. Tapi, adakah yang mampu lebih dekat dengan Sakuragi selain Rodman?

Segala perbandingan di atas berasal dari beberapa forum penggemar komik Slam Dunkyang tersebar di dunia maya. Enam perbandingan di atas memang harus diakui tidak jauh-jauh amat dengan kenyataanya. Hal-hal seperti ini semakin menambah bukti betapa nyata dan dekatnya Slam Dunk dengan kehidupan basket sesungguhnya.

Tetap abadi Slam Dunk!

Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1754/membandingkan-tokoh-slam-dunk-dengan-pemain-nba