Posted on

Sepatu Lari Bersensor Otomatis dari Under Armour

Sempat diterpa guncangan internal di pengujung 2017 lalu, Under Armour (UA) tak berhenti berinovasi. Terbukti, merek olahraga ini kembali hadir dengan inovasi mutakhir pada sepatu lari mereka. Setelah berinovasi dengan sol berteknologi Micro-G dan Charged, kini mereka merilis sepatu olahraga menggunakan teknologi HOVR.

UA HOVR adalah sebuah inovasi pengembangan bantalan busa hasil kerja sama antara Under Armour dengan Dow Chemical. Dow Chemical adalah perusahaan kimia multinasional yang berbasis di Michigan, Amerika Serikat. Mereka melakukan penelitian untuk pengembangan tekonologi ini selama hampir dua tahun.

Dow Chemical membuat terobosan dengan membuat sol berbahan busa yang mampu menambah jarak lari. Hal tersebut dihasilkan dari sol HOVR yang bisa memantulkan energi injak, peredam tekanan, dan memberikan dukungan penuh pada kaki saat berlari. UA memberi inovasi dengan menggabungkan sol busa Dow Chemical dengan teknologi energy web (jaring energi) besutan mereka. Jaring energi ini terbuat dari nilon rajut (mesh) yang bermanfaat untuk mempertahankan bentuk sol walau baru saja digunakan. Menurut UA, jaring energi mampu meningkatkan respon, penyerapan energi, dan meminimalisasi cedera.

Dave Dombrow, kepala bidang desain UA, mengatakan bahwa senjata utama sepatu ini terletak pada bantalan yang terbuat dari busa tersebut. “Kami mencoba membuat bantalan sol terbaik untuk pengembalian energi terbaik,” ungkapnya kepada Digital Trends.

“Bantalan itu akan menyerap energi saat Anda melakukan gerakan menginjak. Lalu, energi itu akan dilepas kembali ketika Anda mengangkat kaki untuk melangkah. Begitu seterusnya. Bantalan HOVR bisa melakukannya,” imbuh Dombrow. Dengan hasil teknologi semacam itu, maka sepatu ini cocok bagi mereka penyuka lari, baik jarak menengah maupun jauh.

Inovasi Under Armour tak berhenti sampai di situ, sol HOVR tersebut rencananya akan diberi sebuah mikrocip. Mikrocip tersebut memiliki konektivitas bluetooth dengan ponsel pintar menggunakan aplikasi MapMyRun. Dengan menggunakan aplikasi itu, Anda bisa mendapat pemberitahuan mengenai kondisi tubuh Anda. Mulai dari irama lari, kecepatan, dan jarak tempuh. Lebih dari itu, aplikasi ini bisa mendeteksi umur sepatu dengan menghitung intensitas pemakaian serta penggunaan.

Aplikasi semacam ini mungkin pernah Anda temui di Nike+ Running atau Google Life, tapi ada perbedaan dengan MapMyRun. Mikrocip di dalam sol sudah mendeteksi ritme gerakan Anda dan akan merekam segala macam gerakan sejak Anda menggunakan sepatu tersebut. Dengan begitu, Anda tak perlu bingung membuka aplikasi tersebut sebelum atau bahkan ketika sedang berlari. Mikrocip akan mencatat semuanya, dan setelah selesai Anda bisa mengirim data-datanya ke aplikasi Anda di ponsel pintar.

Woman’s Under Armour HOVR Sonic (kiri) dan Phantom (kanan).

Teknologi ini sebelumnya sudah diperkenalkan pada Oktober 2017. Kini Anda bisa mendapatkannya mulai Februari 2018. Under Armour Sonic adalah versi pendek (low-cut) yang dibanderol hanya AS$100. Sementara seri Phantom hadir dengan versi lebih tinggi (hi-cut) untuk kenyamanan ekstra di bagian mata kaki dan dibanderol AS$130. Harga yang cukup terjangkau bila kita melihat kembali teknologi yang coba dikembangkan UA dan Dow Chemical di sepatu ini. Selain itu, harga ini jauh lebih rendah dari sepatu-sepatu modern besutan merek lain.

Men’s Under Armour HOVR Sonic

Sumber Foto: Under Armour

 Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1786/sepatu-lari-bersensor-otomatis-dari-under-armour
Posted on

Dusan Bulut, Mimpi Besar dari Jalanan

Di Serbia 3×3 streetball adalah hiburan rakyat dan bola basket adalah olahraga nomor satu di sana. Ketika saya mulai berlatih basket, saya ingin terus memperbaiki kemampuan pribadi saya dan selalu berada di 3×3 streetball.

-Dusan Domovic Bulut, Hoop Press, Oktober 2015

 

Kerja keras mengalahkan bakat ketika bakat tidak mau bekerja keras. Tidak jelas siapa yang mencetuskan kutipan ini, tetapi Kevin Durant sempat mengatakan hal serupa. Namun, bagaimanapun kutipan ini benar adanya. Sudah banyak orang yang membuktikan, kerja keras mampu mengalahkan bakat besar dari seseorang ketika mereka yang berbakat tidak ingin bekerja keras. Jack Ma, CEO Alibaba, contohnya. Ia menjadi miliarder setelah sebelumnya ditolak 30 perusahaan.

Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pada Dusan Domovic Bulut, pemain peringkat atas FIBA 3X3. Dulu ia hanya bermain bermain 3X3 di jalanan Kota Liman bersama teman-teman yang juga tetangganya. Kini Bulut menjadi seorang megabintang yang fenomenal di dunia bola basket. Namun, bukan basket secara konvensional. Ia tidak bermain di lapangan berukuran 28x15m melainkan 3X3 yang hanya memakai satu ring dalam permainannya. Ia secara konsisten berada dalam peringkat tiga besar FIBA 3×3 dalam beberapa tahun terakhir. Baik secara peringkat individu di dunia maupun peringkat secara individu di negaranya.

Karirnya berawal dari sebuah lapangan kecil yang berada di Kota Liman atau biasa disebut Bronx, terletak di Provinsi Vojvidina, Serbia.

Saya melihat sebuah film berjudul ‘Jump’ di televisi dan saya mengatakan kepada ayah saya bahwa saya ingin menjadi salah satu dari mereka,” ujar Bulut dalam sebuah video di kanal YouTube. “Saya ingin berlatih basket dan itulah saat saya mulai berlatih pada umur 9 tahun.”

Sulit bagi Bulut untuk mengembangkan minatnya itu karena pada tahun 1990-an banyak terjadi perang di Serbia. Dulu negara ini masih bernama Yugoslavia. Namun, nasib berkata lain. Bulut justru bekerja keras untuk basket.

Dusan (Bulut) adalah orang yang sangat keras. Dia terlahir dengan watak yang keras,ujar Ignatov di video yang sama.

Watak Bulut yang keras itu membawanya bermain di level tim nasional 3X3 dalam ajang World Championship. Bersama dengan Marko Savic dan Marko Zdero, Bulut mewakili Serbia dalam 3X3 World Championship pertama di Athena, Yunani, pada 2012. Untuk pertama kalinya, Serbia pun menjadi juara dalam kompetisi ini.

Banyak orang menginginkan hobi mereka menjadi jalan hidup. Tak terkecuali seorang Dusan Bulut. Sejak gelar dunia pertamanya itulah Bulut ingin menjadi pemain profesional 3X3. Di samping keinginannya sejak kecil, ia mengatakan bahwa hadiah yang didapat dari hasil juara juga sangat menggiurkan.

Setelah menjadi juara dunia Bulut dan juga timnya, Novi Sad, absen dalam gelaran 3X3 World Tour pada 2012. Di tahun selanjutnya mereka mengikuti Prague Masters dan berhasil melaju 3X3 World Tour mewakili turnamen Prague Masters bersama Bucharest. Dalam penampilan perdananya itu, Novi Sad, berada di posisi kedua di Istanbul, Turki. Mereka kalah dari Brezovica, sebuah kota kecil yang dekat dengan Ljubljana.

Dusan Bulut (pertama dari kanan) bersama timnya, Novi Sad Al-Wahda. Foto: report.az

 

Untuk kali pertama Novi Sad berhasil menjadi juara pada 2014. Kompetisi 3X3 World Tour yang digelar di Sendai, Jepang, itu menampilkan Novi Sad sebagai juara setelah mengalahkan Saskatoon, Kanda, di partai puncak. Pada 2015, Abu Dhabi kemudian menjadi tuan rumah selama dua tahun beturut-turut. Di 2015, Dusan Bulut manandatangani kontrak bersama tim lain asal Uni Emirat Arab yaitu Al-Wahda. Seperti dikutip The National pada 9 Mei 2015, Khalid Al Hanaei yang merupakan Ketua Dewan Direksi Al-Wahda menyatakan ketertarikannya.

“Kami menjalin kerjasama untuk memenangkan setiap kompetisi 3X3 World Tour yang diadakan FIBA,” pungkas Al Hanaei. “Selain meraih gelar juara, tujuan kami menjalin kerjasama adalah untuk mempromosikan Al-Wahda dan juga Abu Dhabi.”

Novi Sad yang dulu mewakili Serbia pun ikut berganti nama menjadi Novi Sad Al-Wahda. Dusan Bulut pun menjadi perwakilan Uni Emirat Arab dalam gelaran FIBA 3X3 World Tour. Bak gayung bersambut, tujuan awal direksi Al-Wahda yang ingin memenangkan setiap kompetisi 3X3 World Tour mulai terwujud di tahun pertama mereka. Novi Sad Al-Wahda menjadi juara pertama pada 2015 dan Bulut berhasil keluar sebagai pemain terbaik.

Sayangnya, pada 2016 Novi Sad Al-Wahda gagal mengulang kesuksesan mereka di tahun sebelumnya. Mereka takluk setelah tim Hamamatsu asal Jepang mencapai 21 poin lebih dulu. Dalam permainan 3X3 tim yang mencapai 21 poin lebih dulu dinyatakan sebagai pemenang meskipun waktu pertandingan masih ada.  Saat itu Hamamatsu diperkuat bintang timnas basket India, Amjyot Singh, yang saat ini bermain dengan Oklahoma City Blue di NBA G-League. Novi Sad Al-Wahda saat itu hanya menduduki peringkat ke-4 dalam 3×3 World Tour 2016.

Kegagalan mereka berlanjut pada 2017. Dalam Zemun Masters 2017, Novi Sad Al-Wahda harus takluk di partai final. Mereka kalah setelah mendapat tembakan magis dari Bogdan Dragovic sesaat sebelum pertandingan berakhir. Melalui tembakan itu pula Dragovic dinobatkan menjadi MVP.

Kendati demikian, dari Dusan Bulut kita justru bisa belajar banyak hal. Kemauan dia untuk menjadi seorang atlet profesional mengalahkan kondisi lingkungannya saat. Perang tidak menghentikan mimpinya. Jalan hidupnya pun berubah ketika dia berusaha dengan keras untuk mengubah hidupnya. Sampai saat ini Bulut tercatat pernah bermain di kasta kedua liga basket Serbia. Ia juga sempat bermain dengan KK Kozuv yang bermain di kasta tertinggi Makedonia. Ia bermain basket konvesional hanya untuk menjaga kondisi fisiknya saat musim dingin dan menunggu hingga musim panas tiba di Eropa. Kemudian ia pun kembali ke 3X3.

Foto:  Red Bull

 Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1777/dusan-bulut-mimpi-besar-dari-jalanan
Posted on

Film Basket Pertama di Indonesia Siap Ramaikan Bioskop

Menjadikan olahraga sebagai tema pembuatan sebuah film sudah sering kita temui. Meski jumlahnya tak sebanyak tema umum lainnya, film bertema olahraga selalu punya daya tarik tersendiri.

Ketika film bertema cabang olahraga telah banyak jumlahnya, Andibachtiar Yusuf ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Sutradara kawakan tersebut menghadirkan film bertema basket pertama di Indonesia. Film itu diberi judul “Mata Dewa”. Film ini diproduseri oleh Avesina Soebli, rekan kerja Yusuf sejak lama.

Ini bukan kali pertama Yusuf menggarap film bertema olahraga. Sebelumnya, ia tercatat pernah beradu pikiran dengan Avesina Soebli dalam pengerjaan “Garuda 19”. Selain itu, ia juga punya andil dalam film “Hari Ini Pasti Menang”. Kedua film tersebut memang bertemakan sepak bola, tapi ia justru merasa tertantang ketika ditawari film bertema basket.

“Walau beda cabor, namun inti cerita film Mata Dewa punya beberapa kesamaan dengan film saya sebelumnya. Sama-sama bercerita tentang bagaimana mengatasi egoisme, kerja tim, dan mencapai sasaran. Tinggal bagaimana kita mengolah ceritanya,” ungkap Yusuf kepada Jawa Pos.

Sutradara berusia 44 tahun ini juga mengatakan bahwa ia mengemas film ini dengan konten yang ringan. “Kami tidak mengkhususkan film ini hanya untuk kalangan penikmat basket. Seluruh kalangan bisa menikmatinya kok,” imbuhnya.

Agatha Chelsea (kiri) dan Kenny Austin (kanan) ketika peluncuran trailer dan poster perdana Mata Dewa di XXI Lounge Plaza Indonesia (23/1).

Ide cerita film “Mata Dewa” terinspirasi dari kisah nyata salah satu peserta turnamen Developmental Basketball League (DBL) Indonesia. Tokoh Dewa punya cita-cita untuk memenangkan turnamen DBL East Java Series. Namun, perjalanan meraih gelar itu harus dilalui dengan terjal. Karena suatu insiden, penglihatan mata kirinya mengalami gangguan.

Kisah itu terjadi di DBL Arena dan SMA Wijaya Surabaya sehingga seluruh proses pengambilan gambar juga diambil di sana. Tak hanya itu, seluruh pemain yang beradu akting di film ini mayoritas adalah mantan pemain kompetisi basket SMA terbesar di Indonesia ini. Jika tidak menjadi peserta, setidaknya mereka punya ikatan emosional dengan DBL Indonesia. Begitulah standar yang dipatok Yusuf dalam menyeleksi pemerannya.

Sebut saja Kenny Austin yang memerankan tokoh Dewa. Remaja asli Medan ini hampir saja mengikuti DBL North Sumatera Series andai tak terkendala batasan usia.  Ada juga komedian Dodit Mulyanto. Sebelum menjalani karir sebagai figur publik, ia adalah guru musik di salah satu SMA di Surabaya. Ketika tim basket sekolahnya bertanding di DBL Arena, ia pernah menjadi koordinator suporter.

Kenny terpilih sebagai pemeran utama mengalahkan puluhan kandidat. Saat casting, dia diminta mempraktikkan beberapa teknik basket. Ia mampu melakukannya dengan baik. Hal tersebut dikarenakan pemeran utama wajib menguasai dua skill, yaitu bermain basket dan berakting.

Salah satu proses pengambilan gambar film “Mata Dewa” yang dilakukan di DBL Arena, Surabaya.

Tak hanya Kenny, pemeran pendukung lainnya tercatat sebagai pemain berprestasi di DBL, di antaranya: Abram Nathan (DBL All Star 2015), Rivaldo Tandra Pangestio (DBL All Star 2012 dan 2013), dan Nuke Tri Saputra (shooting guard Pacific Caesar Surabaya dan DBL All Star 2012). ”Sengaja kami mengajak alumni DBL supaya lebih menjiwai. Bagaimanapun juga, ini adalah film tentang DBL dan mereka sudah mengenal turnamen ini,” terang Avesina kepada Jawa Pos.

Avesina menjanjikan, emosi para penonton akan tersentuh ketika menonton film ini. “Ada ratusan ribu individu yang pernah bersentuhan dengan DBL. Entah sebagai pemain, pelatih, atau suporter. Bisa jadi, seorang ibu merasa dekat dengan DBL karena anaknya pernah bermain di sana. Bisa juga adiknya, keponakannya, atau temannya,” imbuhnya.

Hal ini diiyakan oleh Azrul Ananda, President Director DBL Indonesia sekaligus Executive Producer film “Mata Dewa”. “Entah sudah berapa juta orang yang terlibat dalam pertandingan DBL. Pasti ada jutaan cerita yang sulit kita bayangkan. Semoga film ini bisa merepresentasikan cerita-cerita itu,” lanjut Azrul yang menjadi kameo dengan memerankan dirinya sendiri.

Film “Mata Dewa” dibintangi segenap artis tanah air seperti Kenny Austin, Chelsea Agatha, Brandon Salim, Valerie Tifanka, Nino Fernandez, Ariyo Wahab, dan Dodit Mulyanto. Anda juga bisa menikmati penampilan khusus Augie Fantinus serta Udjo Project Pop. Anda sudah bisa menikmati film basket pertama di Indonesia ini mulai 8 Maret 2018.

Sumber Foto: Jawa Pos

 Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1770/film-basket-pertama-di-indonesia-siap-ramaikan-bioskop#.Wmhb2SDE8dA.facebook
Posted on

Bucks Ganti Jason Kidd dengan Pelatih Indonesia Development Camp

Klub NBA Milwaukee Bucks memutuskan untuk mengakhiri kerja sama mereka dengan Kepala Pelatih Jason Kidd. Kabar itu santer diberitakan setelah salah satu sumber liga mengatakannya kepada ESPN. Jurnalis senior mereka, Adrian Wojnarowski, bahkan sempat mencuit di akun Twitternya tentang pemecatan tersebut pada Selasa, 23 Januari 2018.

Dalam laga melawan Phoenix Suns hari ini, Joe Prunty—yang sebelumnya merupakan asisten pelatih—tampak mengambil alih kepemimpinan. Pria yang juga sempat melatih di Indonesia Development Camp 2009 ini diminta untuk menangani tim selepas pemecatan Kidd. Ia pun memberikan satu kemenangan di laga debutnya pagi tadi. Bucks unggul 109-105 di BMO Harris Bradley Center, Milwaukee, Winconsin, Amerika Serikat.

Salah satu pemecatan Kidd sendiri antara lain karena ia dinilai tidak bisa membawa perubahan yang cukup signifikan. Mereka hanya menang 24 kali dari total 46 laga di musim ini. Kini mereka tengah berada di peringkat ketujuh klasemen sementara Wilayah Timur. Manajer umum Bucks, Jon Horst, menilai tim ini semestinya memiliki kans lebih. Apalagi Bucks memiliki beberapa pemain bintang yang cukup mumpuni. Misalnya, Giannis Antetokounmpo.

Antetokounmpo sendiri sebenarnya masih ingin berada di bawah asuhan Kidd. Ia sempat menemui pelatihnya itu untuk mengatakan sesuatu sebelum ia resmi dipecat.

“Dia memanggil saya dan mengatakan, ‘Saya akan berusaha menyelamatkan pekerjaanmu. Apa yang bisa saya lakukan? Saya akan menelepon pemilik (klub) dan juga agen saya.’” jelas Kidd, seperti dikutip ESPN, lalu ia melanjutkan, “‘Tidak ada yang bisa kamu lakukan. Kamu hanya perlu menceritakan kebenarannya. Itu saja.’”

Jason Kidd (kiri) bersama Joe Prunty (kanan), pelatih yang pernah menangani Indonesia Development Camp 2009. Foto: News Locker

Manajer Umum Horst kemudian menyampaikan pernyataan resminya. Ia mengatakan, Bucks menghentikan kerja sama dengan Kidd supaya tim ini bisa lebih berkembang lagi. Apalagi ia menginginkan Bucks berada di jalur kemenangan setelah terpuruk selama Januari 2018 ini. Terhitung sejak awal tahun, Bucks hanya mengantungi 5 kemenangan dari 12 laga.

Dengan demikian, Horst pun memutuskan untuk mengganti Kidd dengan Prunty. Ia merasa perlu melakukan perubahan itu supaya Bucks bisa lebih bersaing di sisa musim ini. Apalagi mereka juga menargetkan untuk menjadi juara NBA.

Foto: ClutchPoints

 Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1763/bucks-ganti-jason-kidd-dengan-pelatih-indonesia-development-camp
Posted on

Membandingkan Tokoh Slam Dunk dengan Pemain NBA

Membahas komik Slam Dunk rasanya tak cukup hanya dalam satu artikel. Ada banyak hal dalam komik tersebut yang masih bisa dibahas lebih dalam lagi. Salah satunya tentu tentang para tokoh yang ada di dalamnya. Sebagai komik olahraga yang menceritakan perjalanan Shohoku dalam sebuah turnamen, Slam Dunk tentu tidak lepas dari tokoh atau sekolah lain yang menjadi lawan mereka. Semua tokoh ini lalu membaur bersama dan menciptakan sebuah cerita yang menarik, bahkan membekas bagi para pembaca.

Takehiko Inoue bisa disebut sebagai jenius dengan kemampuannya merangkai para tokoh ke dalam cerita tersebut. Semuanya nyaris tepat pada sasaran dan sesuai porsinya. Memang ada beberapa tokoh yang tidak terlalu mendapatkan banyak peran. Akan tetapi, dengan beberapa deskripsi yang disematkan oleh Inoue, kita bisa membayangkan bagaimana mereka bermain.

Dalam beberapa situs anime atau manga yang tersebar di internet, banyak sekali yang membandingkan para tokoh Slam Dunk dengan para pemain bintang atau bahkan legenda NBA. Beberapa perbandingan tersebut memang terasa tepat dan nyaris mendekati aslinya. Tidak ada pernyataan resmi dari Inoue perihal persamaan ini, tapi melihat kecintaan dan pengetahuannya tentang basket, mungkin, ia melihat sosok-sosok NBA untuk menggambar tokoh ciptaannya.

Pertama ada perbandingan kapten SMA Shohoku, Takenori Akagi, dengan legenda New York Knicks, Patrick Ewing. Saya sepenuhnya setuju dengan persamaan ini. Dari segi penampakan, tokoh Akagi memiliki gaya bermain nyaris identik dengan Ewing. Akagi adalah center yang mengandalkan kekuatan tubuh besarnya. Kemampuannya dalam menyerang dan bertahan sama kuatnya. Sesekali ia pun menggetarkan ring lawan dengan dunk-dunk keras. Sama seperti Ewing di era jayanya bersama Knicks, keduanya juga menjadi kapten bagi tim masing-masing.

Selanjutnya ada nama Ryouta Miyagi. Digambarkan sebagai point guard yang bertubuh tidak terlalu tinggi, cepat, dan mempunyai kemampuan melantun bola (dribble) yang bagus, Miyagi memang bisa disejajarkan dengan legenda Phoenix Suns, Kevin Johsnon. Keduanya mengatur serangan dengan sangat brilian, membagi bola tepat waktunya, dan masih bisa diandalkan menjadi pencetak angka di beberapa kesempatan. Untuk faktor yang terakhir, mungkin Johnson lebih bisa diandalkan daripada Miyagi, karena di cerita Slam Dunk Miyagi tidak cukup konsisten mencetak angka.

Ada salah satu tokoh yang secara konsisten hadir di Slam Dunk dan beberapa kali sempat mendapatkan porsi yang cukup besar di dalamnya. Kiminobu Kogure adalah nama tokoh tersebut. Senior SMA yang seangakatan dengan Akagi dan Mitsui ini menggambarkan betapa pentingnya pemain cadangan di sebuah tim. Kogure tidak memiliki fisik sebaik para pemain utama. Senjata andalannya adalah tembakan tiga angka yang cukup akurat.

Persamaan yang sepadan mungkin ada pada Toni Kukoc era Chicago Bulls. Kukoc di era itu bermain cukup baik dari bangku cadangan. Ia dengan baik memimpin tim saat Michael Jordan atau Scottie Pippen mendapatkan waktu istirahat. Tembakan tiga angkanya juga cukup bagus dan bisa diandalkan.

Satu lagi persamaan mereka adalah pembawaan diri. Keduanya sama-sama tampak diam dan flamboyan saat berada di lapangan.

Hisashi Mitsui menjadi pemain selanjutnya yang saya bandingkan. Mantan pemain terbaik tingkat SMP yang sangat mengandalkan kemampuan tembakan tiga angka. Ia bisa menjadi sangat akurat saat mendapatkan ritme dan momentum yang tepat. Kondisi fisik menjadi satu-satunya penghambat Mitsui untuk berkembang. Ia tidak punya cukup stamina untuk menyerang dan bertahan dengan intensitas tinggi. Tidak ada perbandingan yang bisa sangat dekat dengan Mitsui, karena nyaris tidak ada pemain yang kondisi fisiknya seburuk dia. Tapi, melihat kemampuannya yang sangat mengandalkan tembakan tiga angka, bisa dibilang ia sangat dekat dengan Ray Allen. Pemain yang meraih gelar juara bersama Miami Heat ini bisa disebut sebagai salah satu penembak jitu terbaik dalam sejarah NBA.

Perbandingan selanjutnya mungkin akan membuat beberapa penggemar Hanamichi Sakuragi kesal. Karena memang tidak ada lagi yang bisa dibandingkan dengan Kaede Rukawa selain Michael Jordan. Keduanya bermain sebagai pencetak angka utama tim. Memilki segala kemampuan untuk menjadi bintang, baik secara menyerang maupun bertahan. Mungkin lebih tepatnya Rukawa adalah Jordan di usia muda, karena Jordan di era jayanya sangat berhati-hati dalam mengambil semua tembakan. Tidak seperti Rukawa yang masih cukup sering memaksakan tembakan meski ia tidak sedang dalam posisi terbaiknya. Keduanya juga sering dianggap arogan karena gaya permainan mereka. Banyak menggunakan strategi isolation yang membuat ia berhadapan satu lawan satu.

Yang terakhir ada sang tokoh utama komik ini sendiri, Hanamichi Sakuragi. Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya, Sakuragi awalnya tidak mengenal apa itu olahraga basket. Akan tetapi, ia mempunyai bakat alami dengan kondisi fisik yang bagus serta kemampuan melompat yang sama bagusnya. Bakat tersebut lantas terus dilatih hingga ia mampu melakukan beberapa hal, termasuk rebound dan menembak di jarak perimeter. Beberapa situs membandingkan Sakuragi dengan sosok Dennis Rodman di NBA. Apalagi Rodman memang terkenal karena kemampuanya mendapatkan rebound. Ia berperan banyak dalam era kejayaan Bulls sebgai pemain bertahan sekaligus rebounder terbaik di tim.

Dalam beberapa kesempatan Rodman juga memainkan peran sebagai pengacau di lapangan. Ia sering membuat pemain lawan tersulut dan akhirnya membuat pelanggaran yang tidak berguna. Jika mengacu pada hal itu, kemiripan Sakuragi dengan Rodman memang mendekati. Namun, ada satu hal yang tampak jauh berbeda di antara keduanya. Di seri-seri akhir komik, Sakuragi mendapatkan latihan khusus guna memperbaiki kemampuan menembaknya hingga ke jarak perimeter. Ia pun berhasil menjalankan latihan tersebut hingga mempraktekannya di khalayak umum. Hal tersebut tidak dimiliki oleh Rodman. Bahkan untuk urusan menembak di bawah ring saja, Rodman tidak bagus-bagus amat. Tapi, adakah yang mampu lebih dekat dengan Sakuragi selain Rodman?

Segala perbandingan di atas berasal dari beberapa forum penggemar komik Slam Dunkyang tersebar di dunia maya. Enam perbandingan di atas memang harus diakui tidak jauh-jauh amat dengan kenyataanya. Hal-hal seperti ini semakin menambah bukti betapa nyata dan dekatnya Slam Dunk dengan kehidupan basket sesungguhnya.

Tetap abadi Slam Dunk!

Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1754/membandingkan-tokoh-slam-dunk-dengan-pemain-nba

Posted on

Nike Sambut Air Max Day 2018 dengan Merilis 7 Sepatu Ajib

Setiap tanggal 26 Maret, Nike melangsungkan hajatan besar bernama Air Max Day. Hajatan ini digelar untuk menghormati salah satu seri yang menurut mereka paling legendaris. Walau telah terkenal sejak pertama kali muncul tahun 1987, hajatan kelas internasional ini baru dihelat pertama kali pada 2014.

Strategi pemasaran ini efektif menaikkan penjualan serta mampu menggaet pangsa pasar lebih luas. Hal ini terbukti dengan seri khusus Nike Air Max untuk Air Max Day selalu habis terjual dalam hitungan jam. Sebut saja Nike Air Max 1 “3.26” yang dirilis pada 2014 dan Nike Air Max 90 Mid yang dirilis untuk Air Max Day 2016 yang hingga kini jadi idola pada kolektor.

Nike Air Max 1 “3.26” yang dirilis saat Air Max Day pertama kali dihelat, yaitu pada 26 Maret 2014.

Seakan ingin mengulang momen jaya itu, Nike telah membocorkan sepatu yang mereka rilis untuk 26 Maret 2018 mendatang. Tak hanya satu, tapi tujuh seri Air Max. Sepatu-sepatu yang akan dirilis itu tampak berbeda dari Air Max kebanyakan. Ya, mereka mengambil tema ”Hybrid Air Max”. Tahun ini, mereka merilis sepatu yang menggabungkan bagias atas dan sol bawah dari dua Nike Air Max yang berbeda.

Tema tersebut memang kontroversial. Bagi seorang penggemar Nike Air Max garis keras, estetika terbaik ada di siluet orisinil sepatu tersebut. Namun bagi sebagian orang lagi, hal tersebut menarik karena terkait dengan inovasi. Perpaduan semacam ini tergolong unik karena akan memunculkan prototipe Nike Air Max yang baru.

Poster kampanye Air Max Day 2018.

Air Max Day 2018 ini juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan varian baru dari Nike Air Max. Mereka memberi nama seri terbaru ini dengan Nike Air Max 270. Bagian atas terbuat dari nilon rajut (mesh) ditambah dengan plastic piluteran di bagian tumit. Sementara di bagian sol, Nike membuat 4 panel Air Bubble yang disatukan sehingga membentuk siluet sol baru.

Berikut kedelapan sepatu Nike Air Max yang dirilis sepanjang Januari-Maret untuk meramaikan Air Max Day 2018:

Nike Air Max 1/97 SW (kolaborasi dengan Sean Witherspoon)

Sean Witherspoon adalah kolektor Nike Air Max 1 dan Nike Air Max 97 serta seorang pemerhati kultur anak muda di Amerika Serikat. Sepatu ini memenangkan sebuah kontes desain sepatu yang diadakan Nike pada 2017. Bagian atas terbuat dari korduroi. Warna sepatu ini gabungan dari warna khas dari Kota Virginia dan Los Angeles, Amerika Serikat. Rencananya akan dirilis masal pada 26 Maret 2018.

Nike Air Vapormax Plus

Seri pertama hadir dari gabungan antara Nike Air Max Plus di bagian atas dan Nike Air Vapormax untuk sol. Sol bawah juga mengalami penyempurnaan sehingga lebih ringan dari sol Nike Air Vapormax pada umumnya. Rilis pada 25 Januari 2018 dengan harga retail AS$190.

Nike WMNS Air Vapormax Plus

Kurang lebih sama dengan Nike Air Vapormax di atas, tapi sepatu ini diproduksi khusus untuk perempuan. Sol dibuat lebih tebal demi kenyamanan dan warna lebih mengakomodasi penampilan perempuan sporty dan kasual

Nike Air Vapormax 97

Bagian atas sepatu ini diambil dari Nike Air Max 97 yang meruncing terinspirasi kereta peluru Shinkansen. Sedangkan sol bawah sepatu menggunakan sol Nike Air Vapormax dengan Air Sole Unit memanjang. Sampai artikel ini ditulis, belum ada informasi harga dan tanggal rilis.

Nike Air Max 93

Percaya atau tidak, lekukan bagian atas sepatu ini terinspirasi dari pegangan gelas susu. Sepatu ini memiliki Air Sole Unit melingkar 270 derajat di bawah tumit. Rilis pada 3 Februari 2018 dengan harga retail AS$130. 

Nike Air Max 180

Sejatinya, ini adalah penyempurnaan Nike Air Max 90 dengan memotong sol di bawah Air Sole Unit demi memaksimalkan kenyamanan. Dengan sepatu ini, Nike mengklaim bahwa Anda akan benar-benar menginjak udara. Dirilis 2 Februari 2018 dengan harga retail AS$130.

Nike Air Max 270

Anggota termuda keluarga Nike Air Max. Air Sole Unit di sepatu ini digadang-gadang adalah yang paling besar di antara semua seri Nike Air Max. Dirilis 2 Februari 2018 dengan harga retail AS$150.

Nike Air Vapormax 2.0

Digadang-gadang sebagai seri paling mutakhir karena memakan tujuh tahun eksperimen. Bagian atas terbuat dari flyknit ringan. Sementara bagian bawah memuat Air Sole Unit tunggal namun terbentang sepanjang bagian bawah sepatu. Juga belum diinformasikan tanggal rilis dan harga retailnya.

Sumber Foto: Nike

 Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1715/nike-sambut-air-max-day-2018-dengan-merilis-7-sepatu
Posted on

Cara NBA Memperingati Hari Martin Luther King Jr.

Senin, 15 Januari 2018, menjadi waktu penting bagi Amerika Serikat untuk memperingati sebuah hari yang sama penting dalam sejarah mereka. Warga AS, terutama mereka yang keturunan afro-amerika, selalu memperingati Hari Martin Luther King Jr. atau terkenal dengan MLK Day setiap 15 Januari. Begitu pun dengan NBA, liga bola basket paling tersohor di dunia ini juga selalu memperingati hari kelahiran pejuang hak-hak sipil tersebut.

NBA—yang memiliki banyak pemain keturunan afro-amerika—selalu punya cara memperingati MLK Day. Para pegiatnyanya di NBA juga bisa melakukannya secara personal maupun tim. Pada peringatan ke-50 ini, beberapa pegiat melakukannya dengan cara mereka sendiri.

Martin Luther King Jr. saat berpidato di Washington pada 28 Agustus 1963. Foto: PBS

 

I Have a Dream

Sebelum internet, termasuk media sosial, menjadi primadona masyarakat dalam menyampaikan banyak hal, pidato pada zamannya memiliki tempat tersendiri. Pidato Martin Luther King Jr., misalnya, menjadi salah satu cara menggerakan orang-orang keturunan afro-amerika untuk berani turun ke jalan, memperjuangkan hak-hak mereka sebagai manusia. Pidato “I Have a Dream” lantas menjadi yang paling terkenal ketika AS beramai-ramai memperingati MLK Day.

Di era yang lebih modern, ketika internet sudah semakin marak, beberapa pemain secara personal tampak menunjukkan aksi mereka melalui sepatu-sepatu khusus. Beberapa media di media sosial mereka mengunggah gambar kaki Karl-Anthony Towns, center Minnesota Timberwolves. Pemain satu ini tampak menggunakan sepatu hasil kustomisasi. Ia memakai Nike Hyperdunk 2016 warna hitam dengan siluet tubuh Martin Luther King Jr. dan—tentu saja—tulisan “I have a dream” di bagian samping dan “Equality” di sisi lainnya.

Karl-Anthony Towns mengenakan Nike Hyperdunk 2016 dengan kustomisasi khusus MLK Day 2018. Foto: Slam

 

Di hari yang sama, Caris LeVert dari Brooklyn Nets dan Justin Anderson dari Philadelphia 76ers juga tampak mengenakan sepatu spesial. Keduanya memakai Nike Kyrie 4 “BHM” di pertandingan akhir pekan, Minggu 14 Januari 2018 waktu setempat. Sepatu ini berbalut warna putih yang cukup mondominasi dengan bagian sol campuran hijau-hitam-merah sebagai wujud bendera Pan-Africa.

Caris LeVert, guard Brooklyn Nets, mengenakan Nike Kyri 4 “BHM” untuk memperingati MLK Day 2018. Foto: Twitter @BrooklynNets

 

Justin Anderson, forward Philadelphia 76ers, juga tampak mengenakan Nike Kyrie 4 “BHM” dalam memperingati MLK Day. Foto: Twitter @sixers

 

Tidak hanya Nike, di hari besar ini adidas juga tampil spesial di lapang megah NBA. Rookie Utah Jazz, Donovan Mitchell, tampak mengenakan adidas Dame 4 warna hitam masih dengan tulisan “I have a dream” di bagian samping dan “MLK” di punggung sepatu.

Donovan Mitchell, guard Utah Jazz, mengenakan adidas Dame 4 dengan siluet khusus MLK Day 2018. Foto: Slam

 

Tidak ingin tertinggal, Kelly Oubre Jr., Washington Wizards, juga tampil dengan sepatu serba hitam. Ia mengenakan adidas Crazy I Kobe Bryant berwarna hitam dengan tulisan perak “I have a dream” dan “RIP Doctor King”.

Kelly Oubre Jr., guard Washington Wizards, mengenakan sepatu lawan adidas Crazy I Kobe Bryant dengan tulisan spesial MLK Day 2018. Foto: Slam

 

Seragam Spesial

Los Angeles Clippers menjadi salah satu tim NBA yang memperingati MLK Day di lapangan. Para pemainnya tampak mengenakan seragam pemanasan (warmup shirt) bertuliskan “I HAVE A DREAM” di dada ketika hendak melawan Sacramento Kings di Staples Center, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Sabtu 13 Januari 2018 waktu setempat. Pada bagian punggung, terdapat potongan pidato Martin Luther King Jr. pada 8 Agustus 1963 silam.

Blake Griffin, forward L.A. Clippers, mengenakan seragam pemanasan khusus MLK Day 2018. Foto: Yahoo! Sports

 

Seragam pemanasan NBA khusus MLK Day tampak belakang. Foto: Yahoo! Sports

 

Selain Clippers, tetangga mereka Los Angeles Lakers juga tampak mengenakan seragam pemanasan dengan desain serupa. Hanya saja mediumnya berbeda. Jika Clippers mengenakan kaus, Lakers justru memakai seragam bertudung (hoodie) lengan pendek.

Lonzo Ball, guard L.A. Lakers, tampak mengenakan seragam pemanasan bertudung dalam memperingati MLK Day 2018. Foto: USA Today

Memphis Grizzlies memiliki cara sendiri dalam memperingati MLK Day. Mereka merilis seragam dengan desain khusus untuk mengingat Sang Pejuang. Mereka pun mengenakan seragam itu ketika menjamu Los Angeles Lakers di FedEx Forum, Senin 15 Januari 2018 waktu setempat. Desain seragam khusus ini terinspirasi dari protes “I AM A MAN”, sebuah aksi protes para pekerja sanitasi pada 1968,  yang dipakai sekaligus memperingati MLK Day.

Foto: Yahoo! Sports

 Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1703/cara-nba-memperingati-hari-martin-luther-king-jr
Posted on

Turnover, Musuh Dalam Selimut CLS Knights Indonesia

CLS Knights Indonesia kembali menelan kekalahan pada lanjutan pertandingan Asean Basketball League (ABL) musim 2017-2018. Mereka harus menyerah 81-92 atas Singapore Slingers dalam laga yang digelar di Gor Kertajaya, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia pada hari Minggu, 14 Januari 2018 kemarin. Kekalahan ini menjadi kekalahan keenam beruntun bagi CLS dan membuat mereka baru memenangi satu laga dalam tujuh laga pertama di ABL musim ini.

Menelisik ke dalam kekalahan-kalahan CLS, hampir semuanya terjadi dengan skor yang tidak berbeda terlalu jauh. Dalam beberapa kesempatan bahkan CLS telah unggul lebih dahulu hingga menit-menit akhir kuarter empat, sebelum mereka kembali terkejar oleh lawan. Selisih 13 poin adalah margin kekalahan terbesar CLS. Ini terjadi pada laga melawan Mono Vampire Basketball Club, wakil dari Thailand.

Pertandingan semalam sedikit banyak menunjukkan problematika yang terjadi di dalam keseluruhan unit CLS. Mereka mencatatkan 19 kali kesalahan sendiri (turnover) berbanding 13 dari tim tamu. Dari 19 turnover itu, anak-anak Slingers berhasil mengonversinya menjadi 19 poin dari total 92 poin yang mereka cetak, atau setara dengan 20 persen dari keseluruhan poin mereka.

Dari semua laga yang sudah dijalani, CLS sudah membuat 111 kali turnover. Rata-rata 15,8 turnover per laga. Dalam 7 laga itu, tercatat hanya 2 kali CLS mencatatkan turnover lebih kecil daripada lawan-lawan mereka. Pertama saat melawan Formosa Dreamers yang berakhir dengan kemenangan dan satu laga lain melawan Mono Vampire yang berakhir dengan kekalahan.

Keseluruhan, ada 119 poin yang dihasilkan 7 lawan-lawan CLS memanfaatkan 111 turnover tersebut. Rata-rata 17 poin per laga. Secara rata-rata CLS kemasukan 84,5 poin per laga. Artinya lagi, ada sekitar 20 persen poin kemasukan CLS berasal dari konversi turnover.

Fakta di atas sedikit banyak memberikan gambaran bahwa CLS memiliki masalah dalam transisi pertahanan mereka, karena biasanya turnover akan berujung dengan fastbreak. Pertandingan semalam contohnya, dalam beberapa kesempatan para pemain Slingers seperti Xavier Alexander dan Larry Liew melakukan fastbreak dengan sangat leluasa. Mario Wuysang atau Arif Hidayat biasanya menjadi satu-satunya pemain yang tertinggal dan harus menghadapi gempuran fastbreak lawan dan akhirnya memaksa mereka harus melaukan foul untuk menghentikan lawan atau lebih buruknya tim lawan berhasil mencetak angka. Secara keseluruhan pasukan Slingers berhasil mencetak 27 poin dengan skema fastbreak berbanding dengan 17 poin yang diciptakan oleh CLS. Masalah transisi ini sebenarnya tampak jelas secara statistik CLS di tujuh laga mereka. Mereka kalah dalam fastbreak poin di lima laga dan hanya menang dalam statistik ini saat melawan Formosa Dreamers dan Chong Son Kungfu. Mereka kehilangan rata-rata 14 poin per laga dari fastbreak yang dilakukan lawan.

Berkaca pada statistik di atas, tim-tim lawan CLS mungkin akan mencoba menyerang mereka dengan skema fastbreak secara lebih sering. Slingers semalam menunjukan betapa kewalahannya para pemain CLS menghadapi pemain besar nan cepat semacam Xavier Alexander. Hal serupa terjadi sedikit banyak saat CLS melawan Eastern Hongkong yang memiliki Tyler Lamb. Barisan pemaing asing yang dimiliki CLS sekarang memang memilki plus minus masing-masing. Brian Williams dengan posturnya yang tinggi gempal akan sangat menyulitkan lawan yang mengandalkan post up seperti Chong Son Kungfu dengan Justin Howard mereka. Namun bila laga berjalan dengan intensitas lari tinggi, Williams jelas kewalahan harus mengejar Chris Charles sepanjang pertandingan. Faktor tersebut mungkin berusaha diselesaikan dengan masuknya Decorey Jones yang lumayan cepat. Akan tetapi, masalah kembali akan muncul saat lawan memiliki dua pemain besar yang sama baiknya dan juga cepat. Masih dari pertandingan semalam, duo local Slingers Delvin Goh dan Russel Low dengan sempurna mengeksploitasi Jones di area kunci. Jones cepat dan atletis, namun tak cukup baik menjaga area kunci bila lawan menggunakan pola post play.

Masalah ini diperparah saat CLS nyaris kalah postur di tiga posisi lainnya. Dalam dua pertemuan sebelumnya, Xavier Alexander mendapatkan missmatch sepanjang laga saat ia kedapatan dijaga Frederick Lish. Semalam Coach Koko ganti menugaskan Sandy dan Biboy bergantian untuk menjaga Xavier namun hasilnya masih serupa. Kesulitan menjaga pemain sekelas Xavier membuat para pemain CLS melakukan banyak foul, Xavier bahkan total melakukan 20 kali percobaan lemparan gratis sepanjang laga semalam berbanding keseluruhan tim CLS dengan 24 kali percobaan.

Banyak sekali perubahan yang sebaiknya dilakukan oleh CLS bila musim ini mereka masih ingin melaju ke playoff. Masih ada 13 pertandingan lagi yang akan mereka lakoni sepanjang musim reguler yang masih akan berlangsung hingga akhir bulan Maret mendatang.

Lebih berhati-hati dalam setiap penguasaan bola tentu menjadi pekerjaan rumah utama CLS di pertandingan-pertandingan selanjutnya. Selain itu mungkin mengubah cara bermain yang selama ini telah menjadi ciri khas CLS, “run n gun”. Memanfaatkan Brian Williams untuk menyerang di bawah ring mungkin bisa dipertimbangkan untuk dicoba. Dengan postur gempal yang dimilki Brian, harusnya melakukan post play dan isolation memiliki presentase masuk lebih banyak daripada berharap dengan tembakan jarak menengah ataupun jauh. Brian juga bisa dibilang cukup memilki ketangkasan yang bagus untuk melakukan segala trik di bawah ring.

Segala yang sudah terjadi hingga tujuh pertandingan ini memang bukan yang terbaik yang diharapkan oleh para penggemar dan tentunya barisan pemain serta manajemen CLS. Sebagai pengingat, ini adalah musim pertama CLS bermain di ABL, tidak ada yang mudah saat pertama kali mencoba. Tidak ada yang bisa berlari sebelum berjalan, percaya kepada proses sembari terus bekerja keras merupakan sebuah keharusan bagi semua jajaran CLS. Tim ini juga tentunya butuh dukungan yang masif dari seluruh penggemar basket di Indonesia, bukan hanya di Surabaya. Karena sekali lagi, mereka kini bertanding dengan nama CLS Knights Indonesia, bukan Surabaya.(*)

Foto: Yoga Prakasita

 Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1695/turnover-musuh-dalam-selimut-cls-knights-indonesia
Posted on

Singapore Slingers Lagi-lagi Tumbangkan CLS Knights Indonesia

Laga lanjutan ASEAN Basketball League (ABL) mempertemukan kembali CLS Knights Indonesia dengan Singapore Slingers. Pada kesempatan itu, Slingers berhasil memenangkan laga dengan skor 92-81 di GOR Kertajaya, Surabaya, Jawa Timur. Pertemuan itu membuat Slingers telah mengemas tiga kali kemenangan dari CLS Knights.

Xavier Alexander tampil gemilang dengan 22 poin, 8 asis, dan 7 rebound. Kapten mereka, Han Bin Ng, juga tampil baik. Ia mengoleksi 22 poin dan 6 rebound. Sementara itu, center Christien Charles mencetak double-double 18 poin dan 14 rebound.

Di sisi lain, CLS Knights memanfaatkan kepiawaian Mario Wuysang. Ia setidaknya mencetak 20 poin pada pertandingan ini. Brian Williams tampil baik dengan hampir mencetak triple-double 19 poin, 15 rebound, dan 9 asis. Sandy Febiansyakh ikut menyumbang 15 poin meski timnya di akhir laga harus mengalami kekalahan.

Kuarter pertama, Slingers tampil baik lewat Sang Kapten. Han Bin Ng menunjukkan kepiawaiannya melepas tembakan tiga angka maupun perimeter. Di kuarter itu, setidaknya ia telah mengoleksi 14 poin untuk membuat timnya memimpin lebih dulu. Slingers unggul 35-21.

Masuk ke kuarter dua, Slingers yang berada di atas angin mencoba menjaga asa. Kali ini mereka cenderung mengandalkan Xavier Alexander ketika menyerang, tetapi CLS Knights justru memberi perlawanan sengit. Wakil Indonesia ini berkali-kali mendapat poin di bawah ring sehingga skor pun menjadi ketat, meski keunggulan tentu saja masih milik Slingers. Skor di paruh waktu kedua berubah tipis jadi 45-42.

Di kuarter tiga, CLS Knights menguasai bola lebih dulu. Point guard Mario Wuysang tampil percaya diri dengan tembakan tripoinnya. Ia lantas membuka tiga poin pertama CLS Knights di kuarter ini sehingga kedudukan imbang 45-45. Tembakan itu kemudian menjadi momentum tim asuhan Koko Heru Setyo Nugroho untuk mengambil alih keunggulan.

Kendati demikian, di pertengahan kuarter itu, Slingers kembali memberi perlawanan. Han Bin Ng yang absen mencetak angka di kuarter dua kembali trengginas. Kuarter ketiga pun selesai dengan kedudukan sementara 68-62 untuk keunggulan Slingers.

Di kuarter akhir, CLS Knights tampak berusaha membalikkan keadaan. Mereka mati-matian menyerang pertahanan lawan dengan berbagai cara, baik dari bawah ring maupun di belakang garis tripoin. Neo Beng Siang, kepala pelatih Slingers, bahkan berkomentar lawannya itu cukup memberikan perlawanan berarti di paruh waktu kedua. Namun di sisi lain, Slingers ternyata punya kegigihan yang cukup kuat untuk mempertahankan keunggulan.

“Mereka ini bukan tim sembarangan,” komentar Koko tentang Slingers usai pertandingan. “Terlatih dengan baik, punya pengalaman yang baik. Itu saja yang diperlukan. Bedanya dengan kami, kami bukan tim yang berpengalaman.”

Komentar Koko pun terbukti benar. Pasalnya, pada pertandingan itu, dengan pengalaman dan skuat yang cukup mumpuni, Slingers akhirnya bisa mengalahkan tuan rumah. Apalagi CLS Knights kurang mengantisipasi kesalahan sendiri. Setidaknya, mereka melaukan 13 kali turnover yang membuat Slingers mengonversinya menjadi 19 poin.

Slingers menang 92-81.

Dengan keberhasilan itu, artinya Slingers telah mengantungi tiga kemenangan dari tiga pertemuan mereka dengan CLS Knights. Hasil itu sekaligus membuat mereka tak terkalahkan dari wakil Indonesia. Sementara itu, CLS Knights sendiri kini tengah mengalami enam kekalahan beruntun dari tujuh laga yang telah mereka lakoni. Ini tentu bukan hasil yang bagus, tetapi Koko Heru mengaku akan terus melakukan pembenahan.

Foto: Yoga Prakasita

Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1690/singapore-slingers-lagi-lagi-tumbangkan-cls-knights-indonesia

Posted on

Rumor Panas Pertukaran Pemain NBA 2018

Setiap musim reguler NBA memasuki bulan Januari, rumor-rumor pertukaran dan perpindahan pemain bergulir semakin kencang. Mengapa demikian? Karena batas terakhir pertukaran pemain (trade deadline) ditutup pada pertengahan Februari 2018, lebih tepatnya setelah laga All-Star Game berakhir.

Lebih dari setengah musim laga sudah dilalui pada Januari 2018 ini, rasanya sudah cukup bagi manajemen tim memutuskan bagaimana rapor para pemainnya. Apakah pemain tersebut masih dibutuhkan oleh tim atau tidak. Selain itu, ada faktor cedera yang sering kali memaksa sebuah tim melakukan pertukaran demi menambal kekuatan mereka. Ada pula yang melakukan pertukaran agar mendapatkan hak memilih yang lebih bagus di NBA Draft musim depan.

Nah, dengan demikian hingga minggu kedua Januari ini, pemain mana yang namanya paling sering disebut dalam rumor pertukaran?

Nama JaVale McGee muncul saat media-media mulai membicarakan pertukaran. Dilansir The Athletic, McGee dikabarkan tidak bahagia dengan menit bermain dan gaji yang minim. McGee sendiri menjadi bagian dari Warriors sejak musim lalu saat mereka memenangi gelar juara. Dengan usia masih 29 tahun, McGee rasanya masih bisa berkontribusi banyak sebagai seorang center yang atletis meski beberapa kali melakukan hal-hal bodoh di pertandingan (bloopers). Beberapa destinasi juga sempat disebutkan oleh The Athletic. Salah duanya adalah Milwaukee Bucks dan Washington Wizards.

Klub terakhir bukanlah nama asing bagi McGee, Wizards adalah klub pertama yang ia bela di NBA. Sementara Bucks mungkin ingin menambah kekuatan mereka, khususnya di bagian center, karena belum stabilnya permainan Thon Maker sebagai pelapis John Henson. Kalau McGee berhasil bergabung diiringi kembalinya Jabari Parker dari cedera, Bucks akan menjadi salah satu tim yang cukup berbahaya di paruh musim kedua.

Nama selanjutnya ada DeAndre Jordan. Nama Jordan sebenarnya telah muncul sejak jeda musim baru lalu. Meski masih terikat kontrak hingga musim 2018-2019, nama Jordan terus diisukan masuk dalam daftar tukar L.A. Clippers. Beberapa sumber menyebutkan bahwa kepala pelatih Clippers, Doc Rivers, sudah tidak memasukkan Jordan dalam rencana jangka panjangnya. Tapi, tentunya mereka harus mencari pengganti sepadan untuk Jordan yang mau tidak mau harus diakui memilki peran cukup besar dalam hal rebound bagi Clippers. Sepanjang sembilan tahun karir NBA-nya bersama Clippers, Jordan memiliki rataan tembakan masuk mencapai 67 persen. Ia bahkan memimpin liga dalam empat musim (2012-2016) untuk urusan persentase tembakan masuk. Memang dalam prosesnya semua poin yang dicetak Jordan berasal dari pick and roll dan diakhiri dunk, tapi tetap saja efisiensi Jordan tidak bisa diremehkan.

Cavaliers dikabarkan menjadi satu-satunya tim yang tertarik mengambil Jordan dengan Tristan Thompson sebagai gantinya. Akan tetapi, kemungkinan besar Clippers juga akan meminta tambahan lain selain Thompson, seperti hak memilih pada NBA Draft atau satu pemain tambahan lainnya. Thompson sendiri sedang menjalani masa kelam bersama Cavaliers. Terhitung sejak penampilannya di final NBA musim lalu, ia menjadi semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Menit bermainnya pun terus dikurangi oleh Kepala Pelatih Tyronn Lue.

Rumor terakhir yang paling membuat geger adalah rumor Anthony Davis diinginkan oleh Golden State Warriors. Warriors sebagaimana kita tahu bersama adalah tim dengan kekuatan yang bisa dibilang paling komplet di NBA sekarang ini. Ada lima pemain yang pernah turun berlaga All-Star Game dalam skuat mereka. Empat di antaranya menjadi barisan utama sementara satu mengisi bangku cadangan, yaitu Andre Iguodala.

Ketertarikan Warriors terhadap Davis pertama kali diungkapkan salah satu media basket Amerika Serikat, The Ringer. Meski mengungkapkan bahwa peluang pertukaran di musim ini nyaris mustahil, bukan tidak mungkin hal tersebut terjadi. Seandainya Warriors mau melepas Draymond Green dan Klay Thompson, bukan tidak mungkin Pelicans membiarkan Davis melenggang. Masih dari media yang sama, kemungkinan terbesar Warriors mendapatkan Davis adalah dua musim ke depan saat kontraknya sudah memasuki tahun terakhir. Namun sekali lagi, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Membayangkan Stephen Curry, Kevin Durant, dan Davis bergabung dalam satu tim benar-benar menyeramkan.

Tiga rumor diatas menjadi yang paling ramai dibicarakan belakangan ini. Pertukaran pemain sendiri akan ditutup tepatnya pada 8 Februari 2018 mendatang. Masih banyak waktu bagi tim-tim NBA untuk sekali lagi mengevaluasi dan mencari tahu pemain macam apa yang dibutuhkan tim mereka untuk playoff nanti atau bahkan musim depan.

Foto: sportingnews.com

Sumber: https://www.mainbasket.com/r/1689/rumor-panas-pertukaran-pemain-nba-2018